Sunday, August 12, 2018

Mutiara yang Hilang - Pasir Sakti Lampung Timur



Tanah Pasir sakti memberi semua yang kami butuhkan, makanan, pendapatan, air, udara dan tempat tinggal. Tapi mengapa ada subjek yang keji mengambil engkau hanya untuk memuaskan kekayaan materi.

"Tanah yang dahulu menjadi tempat bermain kami dan adik adik kami kini menjadi tombak yang sewaktu waktu bisa membunuh kami".

Jawabannya, Tanah Pasir Sakti telah marah karena ulah subjek yang tak bertanggung jawab, mereka hanya datang Mengambil, Menikmati lalu Menyakiti kemudian Pergi.

Tanah Pasir Sakti sudah memberi lalu di tinggal pergi, apakah itu tujuan diciptakannya manusia bukannya menjaga malah membuat celaka.

"Jika kita menanam yang baik, kita akan menuai yang baik. Jika kita menanam yang buruk, kita akan menuai yang buruk"

Otak masyarakat telah dicuci oleh subjek keji, yang menjajikan kekayaan instan lalu mereka lepas tangan meninggalkan yang telah merekan tanam. 
Mereka mengambil tanah pasir sakit dengan sesuka hati, mereka mengambil tanah pasir sakti dengan cara yang keci dan meninggalkan janji yang diingkari.
Masyarakat akan makmur, sejahtera itu selogan mereka tapi dalam kenyataannya apa yang mereka beri tidak lebih dari seujung rambut bayi daripada yang mereka dapatkan, subjek serakah itulah kata yang tepat untuk memanggil mereka. 

"Jika berani melakukan harus berani bertanggung jawab, tanah kami menjadi lautan asam".


kami tak tau engkau ini insan atau setan, kau mennggalkan banyak keburukan, udara yang makin panas, lahan untuk warga berkurang, air yang asam. Tidak ada lagi tempay kami untuk menanam kebaikan yang ada hanyalah jeritan para insan yang kepanasan.

"Kacang lupa kulitnya".

itu kata yang tepat buat subjek keji, merekan membuat tanah pasir sakti menjadi lautan asam, mereka embuat tanah pasir sakti gersang, mereka membuat masyarakat sengsara. Tidak ada lagi lahan bertanam buat mereka.

Semoga mereka cepat sadar dan bertanggung jawab, apa yang engkau janjikan tolong kerjakan, jangan kau tinggalkan laut asam tolong diberdayakan jangan hanya memandang tapi lakukanlah tindakan kebenaran.


Tetapi untuk sekarang ini saya melihat sudah banyak dari galian pasir yang dimanfaatkan sebagai tempat pariwisata, saya berharap dengan adanya ini dapat menyadakan pihak lain agar lebih memerhatikan dampak dari hasil galian pasir, sehingga kesejahteraan masyarakat bisa lebih terjamin dan yang terpenting masyarakat tidak bergantung pada hasil kerja galian pasir saja, karena sewaktu waktu jika pasir digali secara terus menerus akan menyebabkan dampak yang buruk bagi masyarakat dan alam sekitar.